Skip to main content

Feromonmu

Semerbak aroma perpaduan embun dan tanah basah pagi ini begitu menyejukkan. Aku mendenguskan indera penciuman agar bisa menghirupnya lebih dalam. Sekelabat aroma itu menggoda untuk ku sapa, memercikkan keinginan untuk membelai embun yang sengaja singgah di pelepah daun, menapaki tanah basah yang kutau menggigilkan lapisan epidermis kulit. Aroma yang begitu ingin ku jejaki dari balik selimut nyamanku pagi ini.

Hanya saja, ada sesuatu yang lebih membuatku terbius untuk terus beradu dalam selimut putih dengan corak bunga krisan yang membungkus tubuhku. Ada aroma lain yang hadir. Aroma lain yang ku kenal. Yang kemudian menjalar bagai candu dalam sistem peredaran darahku. Tidak tau kenapa aroma ini begitu mengganggu pagi ini.

Aroma khas yang jelas ku hafal. Tidak sesejuk aroma embun dan tanah basah setiap pagi memang. Namun, menghirupnya mampu menenangkan gelombang dalam dada yang mengamuk minta dipertemukan. Aroma yang mampu merasuki bagian terkecil dalam relung hingga letupannya makin kuat terasa.

Coba tebak? aroma apa yang kini dapat mengalahkan aroma sejuk embun pagi? tidak ada menurutku, tapi itu duluu. Setelah pagi ini mungkin aku akan dibuat limbung untuk memilih. Kuharap tak ada saja yang bertanya. Sungguh ini menjengkelkan. Ditambah lagi, hati malah membuatnya semakin rumit. Perilaku memberontaknya lama-kelamaan jadi tabiat, tidak tahu belajar dan di ajarkan oleh siapa. Selalu saja berseteru dengan logika.

Bagaimana ini? Aroma ini selalu saja membuatku kacau. Ini bukan yang pertama kali tapi ini yang paling parah. Kadang-kadang ingin sekali mengadu tapi setelah dipikir lagi apa yang harus diadukan. Mengadu akan aroma yang membuat hati tak lagi menurut? barang kali aku akan di anggap gila.

Jelas sekali segalanya makin membentuk kalimat tanya, Jadi aroma apakah ini? hingga luapannya mampu membuat ku pusing tujuh keliling, penat bukan kepalang. Sudah bisa diterka? yang jelas ini bukan aroma wangi parfum, bukan juga aroma busuk menyengat yang kemudian sulit dilupakan. Melainkan aroma lain yang tiba-tiba saja hadir, aroma khas, aroma tubuh seseorang.

Ah, kalau saja boleh, kalau saja dekat, sudah kurengkuh pemilik aroma itu hingga puas. Tapi, puas? tidak akan pernah. Demi apa, jangan bilang ini merindu. Argh, tolonglah jangan lagi.

Sekarang apa? sudah lihat bagaimana kacaunya aku bukan? ini baru aromanya bagaimana dengan pemilik aroma itu nanti? Tidak, tidak aku akan semakin kacau kalau begini. Sudah, sudah, tenanglah. Kalian lihat? aku jadi makin kacau dibuatnya. Ah, terserah saja. Mungkin aku harus mencari cara untuk bisa menghirup aroma khas itu dalam waktu lama atau mungkin selama-lamanya. Tidak tahu, mungkin ini efek feromonmu, hingga tak bisa ku lupa aroma khas tubuhmu barang sedetik.

Hei, sampaikan saja pada pemilikmu
Aku merindukannya.

Comments

  1. Rindu....sesuatu yang sangat menyakitkan tapi sangat menyenangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang seringkali membuat objek perindunya kalang kabut.

      Delete
  2. Hihihi bagus nih. Ini kalo beneran, berarti kangen emang bisa bikin tulisan jadi bagus ya. \:p/

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehee, makasih
      kunjungan pertama yaa, jangan lupa mampir lagi

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya Cinta Bahasa Mongondow ^_^

aku'oi nongkon bolaang mongondow. lipu' ten molayu' bo koyogot mo bangun kon pemerintahan.  Aka dia’ kotaawanmu bolaang mongondow. Yoh, lagi buka’ google bo tayak. Langsung bidon kota’awanmu koonda Bol-Mong (bolaang mongondow) tua. Ba dia’mo repot,pogumanku don, bol-mong tua kon pulau Sulawesi tepatnya kon Profinsi Sulawesi utara,manado mo magi’-magi’ paa topilik. Kon tua, kami mo make’ bahasa mongondow tapi mobayong doman mo make’ bahasa manado sin intaw manado mo anto’ doman mea’ mea’ Bol-Mong, terutama ABG-ABGnya tua(termasuk akuoi) mo anto pa mo make’ bahasa manado. Bolaang Mongondow tua, totu moloben. Noi bagi 5 daerah, Bolaang mongondow induk ibu kotanya tua kon lolak, kotamobagu ibu kotanya kotamobagu, bolaang mongondow timur totok pusatnya kon nuangan dega’, bolaang mongondow selatan pusatnya kon molibagu, bo terakhir bolaang mongondow utara pusatnya tua kon buroko. Baloiku kon bolaang mongondow induk, asal kon daerah kotamobagu. Se’eta natua?...

terima kasih KULIT

yah,malam semakin pekat . sebelum tulisan ini terlalu jauh gue paparkan. gue pengen ngasih tau,hal apa yang melatarbelakangi hingga tulisan ini seakan begitu penting ,hingga gue mampu meluangkan waktu disela jam penerbangan gue yang begitu padat. satu-satunya alasan gue adalah, ibu Juliet dan materi sistem integumennya yang tak henti gue junjung setinggi awan hingga saat ini. gue terpukau dengan sistem integumen yang sejujurnya udah pernah gue kenal ketika dibangku aliyah dulu. ini bukan cinta pd pandangan pertama memang. bahkan bukan yang kedua. bukan juga yang ketiga. yah, keempat pun bukan. mungkin terlalu sering gue bertemu dengan sii "sistem integumen". namun, pertemuan yang entah keberapa kali ini mampu membuat otot pilomotor gue bekerja lebih cepat dari cara kerja seharusnya. langsung ajha. diparagraf kalii ini.gue pengen ngucapin terima kasih sebesar-besarnya, setulus-tulusnya ,dan sedalam-dalamnya pada kulit lapisan EPIDERMIS gue sebagai lapisan terluar yang ...

:'(

saya tulis tulisan ini , dengan mata sembap membaca pesanmu yang begitu memukul ulu hati.. saya coba menahan agar air mata ini supaya tak luruh, namun usaha ini terasa sia-sia. tlah saya coba untuk tak mengingatnya , namun setiap kalimat itu tetap terngiang dan merasuk dalam hati sekali lagi, harus bergelut dalam perasaan resah karna peristiwa yang sama  saya akui. saya kecewa. saya resah. saya takut . dan saya tak bisa menutup mata dan telinga lagi. walaupun kau meminta untuk tidak menghiraukan dan menanggapinya. saya tahu saya tak akan bisa mengubahnya menjadi suatu hal yang biasa. saya memang kecewa ,namun bukan berarti saya harus mengalahkanmu. saya  sedang resah , tapi bukan karnamu. saya takut tapi sekali lagi bukan takut karnamu.  saya kecewa dengan sikap saya sendiri yang entah harus bagaimana mengisolasinya dalam diri agar terbang dan tak balik lagi.  tak seharusnya saya menanggapi pesanmu tempo hari .mungkin saja dengan kita tak saling berkir...