Skip to main content

Aku Tahu Tempatmu.

Mulut bertaji membuat telinga pekak. mengalir bagai lahar panas melewati pembuluh darah. Sesak! seketika jantung bak di hunuskan pedang tumpul berkarat. ditusuk, disayat tanpa belas kasih. Kalau saja bisa, sudah ku robek mulut penuh kotoran menjijikkan itu. Mulut penuh bisa yang membinasakan. Aah, walaupun bisa takkan kubiarkan tanganku kotor hanya untuk menyentuh mulutmu yang bertahi. 

Aku berang. Seakan mulutmu inginku cincang dan dijadikan makanan hewan. lebih layak bukan? daripada kau menggunakannya hanya untuk mengoyak habis perasaan orang-orang tak bersalah. Mulut yang menyerang bagai godam berpuluh-puluh ton tepat di sanubari. Sakit!

Mungkin kau memang berpendidikan, tapi mulutmu tak ada bedanya dengan binatang yang tak punya otak dan pikiran. Dangkal! usiamu pun begitu, entah sepanjang umurmu kau gunakan untuk apa, sana sekolahin tuh mulut, biar bener. Bego!
Dimana bentuk penghargaan serta kesyukuranmu pada Tuhan hingga bisa menggunakan salah satu bentuk ciptaannya di jalan bengkok penuh duri. 

Barangkali kau mengangapku berada di kasta terendah hingga kau bisa mengucapkan apapun yang kau inginkan tanpa memperdulikan bahwa aku pun punya hati. Barangkali kau pun berpikir toh pada akhirnya aku takkan punya pilihan selain mengiyakan dan mendengar ceracau menyakitkan dari mulutmu yang nista, meski aku merasa teriris. Barangkali demikian. Barangkali memang pikiranmu sedangkal itu. Barangkali memang begitu caramu melihat dunia. Bukan, bukan, bukan barangkali, tapi memang seperti itu. 
Tapi, bukankah bumi bulat? kenapa harus dikotak-kotakkan. 

Tentu saja, aku tak ingin berpikir baik mengenaimu saat ini. Sebab yang tersisa, yang terpatri saat ini hanya sosokmu yang hina dengan mulut kotormu yang siap memuncratkan kotoran kapan saja. 
Aku membencimu. Sangat, teramat, banyak bahkan sungguh-sungguh membencimu.

Dan yah.
Ucapanmu adalah kualitas dirimu.
Setidaknya, aku tahu dimana harus menempatkanmu. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya Cinta Bahasa Mongondow ^_^

aku'oi nongkon bolaang mongondow. lipu' ten molayu' bo koyogot mo bangun kon pemerintahan.  Aka dia’ kotaawanmu bolaang mongondow. Yoh, lagi buka’ google bo tayak. Langsung bidon kota’awanmu koonda Bol-Mong (bolaang mongondow) tua. Ba dia’mo repot,pogumanku don, bol-mong tua kon pulau Sulawesi tepatnya kon Profinsi Sulawesi utara,manado mo magi’-magi’ paa topilik. Kon tua, kami mo make’ bahasa mongondow tapi mobayong doman mo make’ bahasa manado sin intaw manado mo anto’ doman mea’ mea’ Bol-Mong, terutama ABG-ABGnya tua(termasuk akuoi) mo anto pa mo make’ bahasa manado. Bolaang Mongondow tua, totu moloben. Noi bagi 5 daerah, Bolaang mongondow induk ibu kotanya tua kon lolak, kotamobagu ibu kotanya kotamobagu, bolaang mongondow timur totok pusatnya kon nuangan dega’, bolaang mongondow selatan pusatnya kon molibagu, bo terakhir bolaang mongondow utara pusatnya tua kon buroko. Baloiku kon bolaang mongondow induk, asal kon daerah kotamobagu. Se’eta natua?...

terima kasih KULIT

yah,malam semakin pekat . sebelum tulisan ini terlalu jauh gue paparkan. gue pengen ngasih tau,hal apa yang melatarbelakangi hingga tulisan ini seakan begitu penting ,hingga gue mampu meluangkan waktu disela jam penerbangan gue yang begitu padat. satu-satunya alasan gue adalah, ibu Juliet dan materi sistem integumennya yang tak henti gue junjung setinggi awan hingga saat ini. gue terpukau dengan sistem integumen yang sejujurnya udah pernah gue kenal ketika dibangku aliyah dulu. ini bukan cinta pd pandangan pertama memang. bahkan bukan yang kedua. bukan juga yang ketiga. yah, keempat pun bukan. mungkin terlalu sering gue bertemu dengan sii "sistem integumen". namun, pertemuan yang entah keberapa kali ini mampu membuat otot pilomotor gue bekerja lebih cepat dari cara kerja seharusnya. langsung ajha. diparagraf kalii ini.gue pengen ngucapin terima kasih sebesar-besarnya, setulus-tulusnya ,dan sedalam-dalamnya pada kulit lapisan EPIDERMIS gue sebagai lapisan terluar yang ...

:'(

saya tulis tulisan ini , dengan mata sembap membaca pesanmu yang begitu memukul ulu hati.. saya coba menahan agar air mata ini supaya tak luruh, namun usaha ini terasa sia-sia. tlah saya coba untuk tak mengingatnya , namun setiap kalimat itu tetap terngiang dan merasuk dalam hati sekali lagi, harus bergelut dalam perasaan resah karna peristiwa yang sama  saya akui. saya kecewa. saya resah. saya takut . dan saya tak bisa menutup mata dan telinga lagi. walaupun kau meminta untuk tidak menghiraukan dan menanggapinya. saya tahu saya tak akan bisa mengubahnya menjadi suatu hal yang biasa. saya memang kecewa ,namun bukan berarti saya harus mengalahkanmu. saya  sedang resah , tapi bukan karnamu. saya takut tapi sekali lagi bukan takut karnamu.  saya kecewa dengan sikap saya sendiri yang entah harus bagaimana mengisolasinya dalam diri agar terbang dan tak balik lagi.  tak seharusnya saya menanggapi pesanmu tempo hari .mungkin saja dengan kita tak saling berkir...