Mulut bertaji membuat telinga pekak. mengalir bagai lahar panas melewati pembuluh darah. Sesak! seketika jantung bak di hunuskan pedang tumpul berkarat. ditusuk, disayat tanpa belas kasih. Kalau saja bisa, sudah ku robek mulut penuh kotoran menjijikkan itu. Mulut penuh bisa yang membinasakan. Aah, walaupun bisa takkan kubiarkan tanganku kotor hanya untuk menyentuh mulutmu yang bertahi.
Aku berang. Seakan mulutmu inginku cincang dan dijadikan makanan hewan. lebih layak bukan? daripada kau menggunakannya hanya untuk mengoyak habis perasaan orang-orang tak bersalah. Mulut yang menyerang bagai godam berpuluh-puluh ton tepat di sanubari. Sakit!
Mungkin kau memang berpendidikan, tapi mulutmu tak ada bedanya dengan binatang yang tak punya otak dan pikiran. Dangkal! usiamu pun begitu, entah sepanjang umurmu kau gunakan untuk apa, sana sekolahin tuh mulut, biar bener. Bego!
Dimana bentuk penghargaan serta kesyukuranmu pada Tuhan hingga bisa menggunakan salah satu bentuk ciptaannya di jalan bengkok penuh duri.
Barangkali kau mengangapku berada di kasta terendah hingga kau bisa mengucapkan apapun yang kau inginkan tanpa memperdulikan bahwa aku pun punya hati. Barangkali kau pun berpikir toh pada akhirnya aku takkan punya pilihan selain mengiyakan dan mendengar ceracau menyakitkan dari mulutmu yang nista, meski aku merasa teriris. Barangkali demikian. Barangkali memang pikiranmu sedangkal itu. Barangkali memang begitu caramu melihat dunia. Bukan, bukan, bukan barangkali, tapi memang seperti itu.
Tapi, bukankah bumi bulat? kenapa harus dikotak-kotakkan.
Tentu saja, aku tak ingin berpikir baik mengenaimu saat ini. Sebab yang tersisa, yang terpatri saat ini hanya sosokmu yang hina dengan mulut kotormu yang siap memuncratkan kotoran kapan saja.
Aku membencimu. Sangat, teramat, banyak bahkan sungguh-sungguh membencimu.
Dan yah.
Ucapanmu adalah kualitas dirimu.
Setidaknya, aku tahu dimana harus menempatkanmu.
Dahsyat kak tulisannya :)
ReplyDeleteterima kasih :)
Delete