Skip to main content

Kita di angka 7

tulisan malam ini memang aku niatkan untuk kamu.
tapi seperti malam malam di 247 jam yang lalu, dimana aku gak pernah yakin kamu bakalan bisa baca tulisan aku,yang blog ini pun kamu gak pernah tau.
yah,meski ada beribu alasan buat aku untuk buat tulisan ini menjadi hanya sekedar coretan batin, aku akan tetap ngelanjutin ini menjadi sebuah pengakuan untuk kamu .
mungkin dengan hadirnya tulisan ini ,salah satu dari salah tiga sahabat terbaik aku bisa jadi burung pengantar pesan dan buat kamu lebih peka terhadap perasaan . yah,perasaan kita.

sejak tanggal mulai beranjak dari angka 7
aku tau kalo hidup ini bakalan berubah ketika cinderella harus pergi
aku gak punya cukup alasan kenapa semua ini bisa aku mulai lagi dengan mudah
berpikir kalo Tuhan memang merencanakan sesuatu sesuai permintaan kita . dan Tuhan teramat yakin pada rencanaNya.

aku mulai merasakan sesuatu yang entah apa namanya tapi aku ingat pernah merasakannya didimensi sebelumnya
konsekuensi yang gak aku pertimbangkan dengan bijak 
mungkin ini penyesalan, mungkin ini ketidakberdayaan, dan entah harus memvonis perasaan ini bagaimana lagi.

ya, aku gak punya banyak alasan kenapa harus menerimamu disini , tepat di rongga perut sebelah kanan yang telah kukunci rapat, dan kuncinya kuhempaskan dilaut agar tak ada yang bisa membukanya lagi sampai keajaiban Tuhan bicara.
tapi ketika kamu ada, seakan gembok besar yang kupakai untuk menutup rapat rongga itu ikut tercerna dalam saluran pencernaan dan kamu dapat membukanya tanpa perlu keahlian khusus.

dan sampai saat ini, tak perlu penjabaran panjang tentang kesalahan yang sengaja kita buat . semoga kamu tetap ingat ,hubungan ini masih ada. masih ada kita di angka 7.


Comments

Popular posts from this blog

Saya Cinta Bahasa Mongondow ^_^

aku'oi nongkon bolaang mongondow. lipu' ten molayu' bo koyogot mo bangun kon pemerintahan.  Aka dia’ kotaawanmu bolaang mongondow. Yoh, lagi buka’ google bo tayak. Langsung bidon kota’awanmu koonda Bol-Mong (bolaang mongondow) tua. Ba dia’mo repot,pogumanku don, bol-mong tua kon pulau Sulawesi tepatnya kon Profinsi Sulawesi utara,manado mo magi’-magi’ paa topilik. Kon tua, kami mo make’ bahasa mongondow tapi mobayong doman mo make’ bahasa manado sin intaw manado mo anto’ doman mea’ mea’ Bol-Mong, terutama ABG-ABGnya tua(termasuk akuoi) mo anto pa mo make’ bahasa manado. Bolaang Mongondow tua, totu moloben. Noi bagi 5 daerah, Bolaang mongondow induk ibu kotanya tua kon lolak, kotamobagu ibu kotanya kotamobagu, bolaang mongondow timur totok pusatnya kon nuangan dega’, bolaang mongondow selatan pusatnya kon molibagu, bo terakhir bolaang mongondow utara pusatnya tua kon buroko. Baloiku kon bolaang mongondow induk, asal kon daerah kotamobagu. Se’eta natua?...

terima kasih KULIT

yah,malam semakin pekat . sebelum tulisan ini terlalu jauh gue paparkan. gue pengen ngasih tau,hal apa yang melatarbelakangi hingga tulisan ini seakan begitu penting ,hingga gue mampu meluangkan waktu disela jam penerbangan gue yang begitu padat. satu-satunya alasan gue adalah, ibu Juliet dan materi sistem integumennya yang tak henti gue junjung setinggi awan hingga saat ini. gue terpukau dengan sistem integumen yang sejujurnya udah pernah gue kenal ketika dibangku aliyah dulu. ini bukan cinta pd pandangan pertama memang. bahkan bukan yang kedua. bukan juga yang ketiga. yah, keempat pun bukan. mungkin terlalu sering gue bertemu dengan sii "sistem integumen". namun, pertemuan yang entah keberapa kali ini mampu membuat otot pilomotor gue bekerja lebih cepat dari cara kerja seharusnya. langsung ajha. diparagraf kalii ini.gue pengen ngucapin terima kasih sebesar-besarnya, setulus-tulusnya ,dan sedalam-dalamnya pada kulit lapisan EPIDERMIS gue sebagai lapisan terluar yang ...

:'(

saya tulis tulisan ini , dengan mata sembap membaca pesanmu yang begitu memukul ulu hati.. saya coba menahan agar air mata ini supaya tak luruh, namun usaha ini terasa sia-sia. tlah saya coba untuk tak mengingatnya , namun setiap kalimat itu tetap terngiang dan merasuk dalam hati sekali lagi, harus bergelut dalam perasaan resah karna peristiwa yang sama  saya akui. saya kecewa. saya resah. saya takut . dan saya tak bisa menutup mata dan telinga lagi. walaupun kau meminta untuk tidak menghiraukan dan menanggapinya. saya tahu saya tak akan bisa mengubahnya menjadi suatu hal yang biasa. saya memang kecewa ,namun bukan berarti saya harus mengalahkanmu. saya  sedang resah , tapi bukan karnamu. saya takut tapi sekali lagi bukan takut karnamu.  saya kecewa dengan sikap saya sendiri yang entah harus bagaimana mengisolasinya dalam diri agar terbang dan tak balik lagi.  tak seharusnya saya menanggapi pesanmu tempo hari .mungkin saja dengan kita tak saling berkir...