Skip to main content

Mereka menyebutnya 'Ikhlas'

tak dapat terjangkau
tak dapat tergapai walau tlah kukerahkan semua rasa
malam yang terus merangkak tanpa menganggap semua ini nyata
mencoba menyudutkan segala perasaan yang terasa gila

bagaimana?
kata tanya yang seharusnya tlah terjawab sedari tadi
tetap berusaha mencari hingga bagian terkecil titik nadir 
mungkin aku lupa
tapi semuanya lebih mengarah pada rasa khilaf tak berkesudahan.
menganggap semuanya baik-baik saja
namun hati bersikeras bahwa inii kesalahan berkepanjangan.

memikirkan berulang kali
menguatkan hati untuk kesekian kali
melakukan berkali kali
kemudian menyesal untuk keseribu kali.
masih dan selalu.

diganjal perasaan tak dikenal. komitmen yang terkukuh hanya pada kamar persegi 4 ini.
tak menyenangkan memang. tapi iblis dalam hati seakan seribu kali lebih menggoda ketika melangkah meninggalkan ruangan suci ini.
selalu begitu, merasa ketika 1kali kaki ini melangkah,terdapat 1milyar bisikan sesat yang terbisik disegala arah mata angin.
hanya ada 1 penawar yang sedang ku perjuangkan. penawar yang membuat mata ini lelah terpejam.
yang sedangku paksakan bertunas ditaman hati yg tandus. kupaksakan tumbuh digurun gersang tak berujung.
mereka menyebutnya IKHLAS.
berusaha tetap mematrikannya dalam hati. menggoreskan kata inii meski jiwa teramat perih.
penawar dari segala penawar. penenang dari segala penenang. pelipur dari segala pelipur.
penawar hati, penenang jiwa dan pelipur lara. 

wahai hati. tetaplah Ikhlas, ikhlas,ikhlas dan ikhlas. semuanya bukan diambil tapi diganti dengan yang lebih baik. aku tau, dan kau tentu lebih dari sekedar tau.

yah,kini hamba ikhlas Yaa Allah.
Hamba ikhlas dengan semua cobaan ini
Hamba ikhlas dengan segala rencana-Mu
Hamba ikhlas dengan  segala rajut kasih-Mu . Hamba ikhlas. Hamba Ikhlas Yaa Rabb .Hamba ikhlas.

Maka kuatkanlah.

Comments

Popular posts from this blog

Saya Cinta Bahasa Mongondow ^_^

aku'oi nongkon bolaang mongondow. lipu' ten molayu' bo koyogot mo bangun kon pemerintahan.  Aka dia’ kotaawanmu bolaang mongondow. Yoh, lagi buka’ google bo tayak. Langsung bidon kota’awanmu koonda Bol-Mong (bolaang mongondow) tua. Ba dia’mo repot,pogumanku don, bol-mong tua kon pulau Sulawesi tepatnya kon Profinsi Sulawesi utara,manado mo magi’-magi’ paa topilik. Kon tua, kami mo make’ bahasa mongondow tapi mobayong doman mo make’ bahasa manado sin intaw manado mo anto’ doman mea’ mea’ Bol-Mong, terutama ABG-ABGnya tua(termasuk akuoi) mo anto pa mo make’ bahasa manado. Bolaang Mongondow tua, totu moloben. Noi bagi 5 daerah, Bolaang mongondow induk ibu kotanya tua kon lolak, kotamobagu ibu kotanya kotamobagu, bolaang mongondow timur totok pusatnya kon nuangan dega’, bolaang mongondow selatan pusatnya kon molibagu, bo terakhir bolaang mongondow utara pusatnya tua kon buroko. Baloiku kon bolaang mongondow induk, asal kon daerah kotamobagu. Se’eta natua?...

terima kasih KULIT

yah,malam semakin pekat . sebelum tulisan ini terlalu jauh gue paparkan. gue pengen ngasih tau,hal apa yang melatarbelakangi hingga tulisan ini seakan begitu penting ,hingga gue mampu meluangkan waktu disela jam penerbangan gue yang begitu padat. satu-satunya alasan gue adalah, ibu Juliet dan materi sistem integumennya yang tak henti gue junjung setinggi awan hingga saat ini. gue terpukau dengan sistem integumen yang sejujurnya udah pernah gue kenal ketika dibangku aliyah dulu. ini bukan cinta pd pandangan pertama memang. bahkan bukan yang kedua. bukan juga yang ketiga. yah, keempat pun bukan. mungkin terlalu sering gue bertemu dengan sii "sistem integumen". namun, pertemuan yang entah keberapa kali ini mampu membuat otot pilomotor gue bekerja lebih cepat dari cara kerja seharusnya. langsung ajha. diparagraf kalii ini.gue pengen ngucapin terima kasih sebesar-besarnya, setulus-tulusnya ,dan sedalam-dalamnya pada kulit lapisan EPIDERMIS gue sebagai lapisan terluar yang ...

:'(

saya tulis tulisan ini , dengan mata sembap membaca pesanmu yang begitu memukul ulu hati.. saya coba menahan agar air mata ini supaya tak luruh, namun usaha ini terasa sia-sia. tlah saya coba untuk tak mengingatnya , namun setiap kalimat itu tetap terngiang dan merasuk dalam hati sekali lagi, harus bergelut dalam perasaan resah karna peristiwa yang sama  saya akui. saya kecewa. saya resah. saya takut . dan saya tak bisa menutup mata dan telinga lagi. walaupun kau meminta untuk tidak menghiraukan dan menanggapinya. saya tahu saya tak akan bisa mengubahnya menjadi suatu hal yang biasa. saya memang kecewa ,namun bukan berarti saya harus mengalahkanmu. saya  sedang resah , tapi bukan karnamu. saya takut tapi sekali lagi bukan takut karnamu.  saya kecewa dengan sikap saya sendiri yang entah harus bagaimana mengisolasinya dalam diri agar terbang dan tak balik lagi.  tak seharusnya saya menanggapi pesanmu tempo hari .mungkin saja dengan kita tak saling berkir...