Skip to main content

Sang Jarak

Aku suka membicarakanmu walau tak pernah menyebutkan namamu dengan gamblang, ah bukan lebih tepatnya mendengar tentangmu yang sering mereka bicarakan. Terang saja,  aku tak mengenalmu cukup baik untuk sekedar mengisi penilaian atau ikut mencitrakan bagaimana tepatnya rupamu. Hanya saja, dari segala sumber yang sempat kutangkap, kau tergambarkan seumpama sekat kosong yang perlahan-lahan menawarkan rasa haus akan satu rasa, mereka menyebutnya rindu.

Pernah aku menyinggungmu disalah satu tulisanku. Yah, kutuliskan namamu dengan rapi, hanya secuil tapi sangat terpatri dalam benak. Dan kali ini tidak tanggung-tanggung aku menulis tentangmu lagi. Bahkan mungkin kali ini aku terlalu berani. Mungkin karna sebentar lagi aku akan menjadi salah satu orang yang akan membicarakanmu dengan kobaran semangat berapi-api. Seseorang yang nanti akan merasakan bagaimana sekatmu mempengaruhi tiap satuan waktu yang akan kulewati nanti. Mungkin.

Hanya saja, ada banyak hal yang membuatmu teramat mengganjal dari balik lensa kacamata yang ku pakai. Jujur saja, aku tak ingin menjadi sebilah orang yang kemudian menangis ringkih hingga menjadi tawanan rindu yang kau taburkan disetiap jeda yang kau tawarkan. Pun menjadi perindu yang selalu termangu dengan tungkai lunglai ketika mendengar namanya disebutkan. Jujur, aku tak ingin. Kalau saja bisa, aku sungguh menolak. Namun, menerimamu adalah satu-satunya pilihan. Aku tak bisa menghindarimu lagi kali ini sebab sekat, jeda serta ruang kosongmu memang akan nyata pada nantinya. Barang tentu aku yang harus menguatkan diri untuk bisa menerimamu dengan tabah dan tangan terbuka.

Aku ingat bagaimana mereka selalu mengisyaratkan ragamu ketika bercerita.
Katanya, kau punya hening yang memilukan,  kau mampu membuat sesak yang teramat sangat hingga membuat ritme jantung tak beraturan, kau bisa membuat segala yang jauh menjadi begitu dekat hingga sejengkal. Ah, membayangkannya pun sudah terasa begitu berat. Seakan kau hadir sebagai orang ketiga yang kini menjadi penengah.
Katanya, kau begitu lugu, dengan tiupan tiap fraksi yang mampu membuat raga menjadi perindu, yang dengan hati-hati mengubah semilir angin yang berhembus menjadi belaian lembut pada lapisan luar kulit. Kau selalu bisa menjadikan rasa itu semacam keinginan untuk segera dilabuhkan pada dermaga yang dirindu. Yah, kau adalah ahlinya.

Tapi, jangan salah mengira, aku sungguh takkan mendefinisikanmu seperti yang mereka yang isyaratkan, aku sungguh tak akan membuatmu dilihat sebagai pembawa rindu paling menyakitkan yang hidup di atas semesta. Sungguh, hal itu tak akan kulakukan.
Aku ingin melihatmu sebagai satu sosok pemberi pelajaran,  sebagai pelengkap akan hubungan yang selama ini ku rasai teramat dekat tanpa bisa kau jangkau. Aku ingin kau menjadi pengukur sampai dimana level ketulusan yang selama ini terasa begitu tinggi nan menjulang, hingga kini kau hadir sebagai sekat. Apa masih sama? apa masih setinggi sekarang? Pun dengan rasa percaya yang membentang teramat luas, hingga kini kau hadir sebagai ruang kosong yang mungkin bisa membuat percaya itu menjadi sempit dengan perlahan. Entah nantinya bagaimana. Dalam hal ini aku sungguh mengandalkanmu.

Sejauh ini, aku masih mempercayaimu berada di sisi yang lebih baik. Kamu ialah parameter yang kugunakan sebagai batu loncatan dalam hubungan ini nanti di masa yang akan datang. Kuharap, ketika nanti berada dalam sekat, jeda serta ruang kosongmu kau pun lebih baik dari anggapanku saat ini. Meski aku tahu, apa-apa saja yang mereka isyaratkan tentangmu bukan hanya sekedar mengarang bebas. Barangkali, aku akan tetap menyesap bagian heningmu, getirmu serta tawa puasmu karna membuatku merindu. Barangkali demikian. Tapi bukankah kamu memang begitu? tak ada yang pernah lolos dari apa yang selalu mereka isyaratkan tentangmu, begitu pula aku. Tentu saja, aku akan lebih mempersiapkan diri dari rindu yang akan kau tawarkan nanti. Tentunya, dengan persiapan yang lebih baik, lebih matang. 

Dan nanti ketika kamu datang, dengan sekat, jeda, ruang kosong atau entah dengan perangkatmu yang lain.
Pintaku, baik-baiklah pada kami. Wahai Jarak.

Comments

  1. hati-hati jarak bisa tumbuh menjadi jauh loh :D
    https://aksarasenandika.wordpress.com/2015/03/12/jauh/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung bagaimana jarak itu dimulai.
      Terima kasih sdh mampir :)

      Delete
  2. Jarak kadang begitu menyebalkan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tergantung dari sudut pandang juga loh :)
      senang sekali dapat kunjungan lagi, sering-sering mampir yaa^^

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Saya Cinta Bahasa Mongondow ^_^

aku'oi nongkon bolaang mongondow. lipu' ten molayu' bo koyogot mo bangun kon pemerintahan.  Aka dia’ kotaawanmu bolaang mongondow. Yoh, lagi buka’ google bo tayak. Langsung bidon kota’awanmu koonda Bol-Mong (bolaang mongondow) tua. Ba dia’mo repot,pogumanku don, bol-mong tua kon pulau Sulawesi tepatnya kon Profinsi Sulawesi utara,manado mo magi’-magi’ paa topilik. Kon tua, kami mo make’ bahasa mongondow tapi mobayong doman mo make’ bahasa manado sin intaw manado mo anto’ doman mea’ mea’ Bol-Mong, terutama ABG-ABGnya tua(termasuk akuoi) mo anto pa mo make’ bahasa manado. Bolaang Mongondow tua, totu moloben. Noi bagi 5 daerah, Bolaang mongondow induk ibu kotanya tua kon lolak, kotamobagu ibu kotanya kotamobagu, bolaang mongondow timur totok pusatnya kon nuangan dega’, bolaang mongondow selatan pusatnya kon molibagu, bo terakhir bolaang mongondow utara pusatnya tua kon buroko. Baloiku kon bolaang mongondow induk, asal kon daerah kotamobagu. Se’eta natua?...

terima kasih KULIT

yah,malam semakin pekat . sebelum tulisan ini terlalu jauh gue paparkan. gue pengen ngasih tau,hal apa yang melatarbelakangi hingga tulisan ini seakan begitu penting ,hingga gue mampu meluangkan waktu disela jam penerbangan gue yang begitu padat. satu-satunya alasan gue adalah, ibu Juliet dan materi sistem integumennya yang tak henti gue junjung setinggi awan hingga saat ini. gue terpukau dengan sistem integumen yang sejujurnya udah pernah gue kenal ketika dibangku aliyah dulu. ini bukan cinta pd pandangan pertama memang. bahkan bukan yang kedua. bukan juga yang ketiga. yah, keempat pun bukan. mungkin terlalu sering gue bertemu dengan sii "sistem integumen". namun, pertemuan yang entah keberapa kali ini mampu membuat otot pilomotor gue bekerja lebih cepat dari cara kerja seharusnya. langsung ajha. diparagraf kalii ini.gue pengen ngucapin terima kasih sebesar-besarnya, setulus-tulusnya ,dan sedalam-dalamnya pada kulit lapisan EPIDERMIS gue sebagai lapisan terluar yang ...

:'(

saya tulis tulisan ini , dengan mata sembap membaca pesanmu yang begitu memukul ulu hati.. saya coba menahan agar air mata ini supaya tak luruh, namun usaha ini terasa sia-sia. tlah saya coba untuk tak mengingatnya , namun setiap kalimat itu tetap terngiang dan merasuk dalam hati sekali lagi, harus bergelut dalam perasaan resah karna peristiwa yang sama  saya akui. saya kecewa. saya resah. saya takut . dan saya tak bisa menutup mata dan telinga lagi. walaupun kau meminta untuk tidak menghiraukan dan menanggapinya. saya tahu saya tak akan bisa mengubahnya menjadi suatu hal yang biasa. saya memang kecewa ,namun bukan berarti saya harus mengalahkanmu. saya  sedang resah , tapi bukan karnamu. saya takut tapi sekali lagi bukan takut karnamu.  saya kecewa dengan sikap saya sendiri yang entah harus bagaimana mengisolasinya dalam diri agar terbang dan tak balik lagi.  tak seharusnya saya menanggapi pesanmu tempo hari .mungkin saja dengan kita tak saling berkir...